ilustrasi

Putri, siswi lulusan SMP asal Kota Tangerang Selatan (Tangsel) harus pontang-panting mencari sekolah negeri di luar zonasi tempat tinggalnya. Ia terlempar dari  SMA Negeri 2 Tangsel yang menjadi pilihan pertamanya ke SMA Negeri di Jakarta.

“Kami terlempar. Karena seleksi semua sekolah SMA negeri Tangsel hanya berdasarkan jarak rumah. Pilihan dan strategi tidak bisa di lakukan karena memang posisi letak rumah di tengah semua SMA Negeri yang ada seperti SMA 3 dan SMA 12 yang bisa di pastikan akan kalah jika di urutkan dengan jarak terpendek,” kata orangtua Putri, Selasa (2/7) seperti dikutip dari medcom.id.

Padahal, jarak tempat tinggalnya dengan SMA 2 Tangsel tak begitu jauh. Namun, ia terpental dari kuota 432 siswa yang mendapatkan kursi di SMA tersebut.

“Padahal jarak rumah kami dengan sekolah hanya 4,7 KM saja,” ujarnya.

Mencoba peruntungan jalur prestasi di zonasi Tangsel yang menggunakan nilai UN juga tidak bisa di lakukan, karena waktu mendaftar melihat pengumuman di kaca sekolah aturan yang berlaku hanya untuk siswa dari luar zonasi.

Ia tak patah arang. Kini ia mencoba peruntungan masuk SMA 70 dan pilihan SMAN lainnya di Jakarta, jalur nonzonasi tahap I umum luar DKI. Berbekal nilai Ujian Nasional (UN) dengan nilai di atas rata-rata yaitu 94,88.

“Kita milih di sini karena passing grade yang bagus dan yang kemungkinan masuknya tinggi. Kebetulan daftar di sini libat nilainya masih bisa daftar,” terang orangtua putri.

Jika Putri tidak juga diterima di SMAN Jakarta, maka rencana akhir akan mendaftar di sekolah swasta di dekat rumahnya.

“Kebetulan memang anak saya mendapatkan penghargaan siswa teladan di SMP-nya jadi SMA swasta di sekolah asalnya pun akan menerima dengan tangan terbuka, jika tidak dapat sekolah negeri,” tuturnya. (den)