Tawuran pelajar antar sekolah (foto : ilustrasi)

Matahari sebentar lagi terbit, waktu menunjukan pukul empat tiga puluh, Deni (nama samaran) terbangun oleh suara ibunya yang sedang sibuk di dapur. Hari itu adalah hari Sabtu, hari libur Deni bersekolah, usai mandi, Deni tetap bergegas untuk berangkat kerja, akhir pekan memang waktu Deni untuk bekerja.

Menggunakan motor bebek miliknya, perlu waktu tiga jam untuk menempuh jarak dari Ciseeng Bogor menuju Jakarta, Deni bekerja di sebuah hotel di daerah Pancoran di Jakarta, agar sampai tepat waktu menuju tempat kerja, Deni berangkat pukul lima pagi supaya terhindar dari macet.

“Biasanya macet di daerah Lebak Bulus, terus yang paling parah di daerah Pancoran, sementara jam tujuh harus sudah sampai di tempat kerja,” ungkap Deni kepada liberasi.id saat ditemui.

Deni adalah siswa Sekolah Teknik Mesin (STM) Sasmita Jaya Pamulang, sebagai seorang pelajar yang masih duduk di bangku kelas XI (sebelas), memanfaatkan akhir pekan untuk bekerja adalah upaya Deni untuk meringankan beban orang tuanya, Deni sudah biasa mencari kerja sendiri sejak kelas X (sepuluh), menurutnya selain untuk mendapatkan uang jajan tambahan, uang tersebut juga dipakai untuk membayar uang bulanan/SPP di sekolahnya.

“Saya biasa dibayar Rp 145 ribu delapan jam, atau Rp 250 ribu kalau lembur, lumayanlah buat uang jajan di sekolah,” ungkapnya.

Akibat bekerja dan mampu mendapatkan uang sendiri, muncul pula perasaan bebas dalam benak Deni, ia tidak banyak mendapatkan intervensi dari orang tuanya, orang tua Deni cenderung longgar terhadap apapun yang Deni lakukan, termasuk keputusan untuk memilih bersekolah di STM Sasmita Jaya. Deni bercerita awal mula ia bersekolah di STM Sasmita Jaya, menurutnya, keinginan bersekolah bukanlah keinginan orang tuanya, keinginan Deni justru muncul saat mendapat ajakan dari beberapa seniornya saat masih belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Saya akrab dengan kakak kelas di SMP, dia (kakak kelas) cerita kalau disini menjurus kerjanya,” tutur Deni.

Kedekatan dan pertemanan dengan seniornyapun terjalin, awal masuk sekolah (STM) Deni biasa diajak nongkrong bareng kakak kelasnya yang lain, karena cukup mempunyai uang saku, Deni pun kerap ikut berkumpul hanya untuk sekedar ngopi dan merokok di kantin samping sekolah.

Saat diajak nongkrong oleh kakak kelasnya, Deni menyadari bahwa kebiasaan berkumpul itu tidak semuanya bersifat positif, bahkan cenderung negatif dan hanya untuk sekedar bersenang-senang, seperti minum minuman keras sampai terlibat aksi tawuran, namun dari apa yang dilakukannya, Deni merasa mendapatkan banyak pengalaman baru dan kenyamanan karena pertemanannya itu.

“Akrab, senior juga udah dianggap teman, jadi nyaman, masalah bergaul, namanya pelajar masih gede rasa penasarannya, tapi karena sering diajakin nongkrong sama kakak kelas juga jadi banyak teman, juga banyak pengalaman, dari yang gak tau jadi tau,” tambah Deni.

Akibat lingkungan pertemanan Deni di sekolahnya, Deni pernah terlibat dalam aksi tawuran antara STM Sasmita Jaya  Pamulang dan STM Bhipuri Serpong, saat itu Deni dan teman-teman lainnya sedang melakukan “nyekar” (melayat dan berdo’a di makam pelajar yang menjadi korban tawuran), sepulang dari “nyekar”, 15 motor rombongannya dihadang puluhan pelajar bersenjata dari sekolah Bhipuri.

“Kami bawa bendera kuning biar gak disangka warga mau tawuran, tapi waktu itu bentrok terjadi karena dari Bhipuri nyegat, teman yang lain ada yang panik ada juga yang kabur,” terang Deni.

Saat tawuran itu Deni hampir terkena senjata tajam yang dilayangkan kelompok pelajar dari sekolah Bhipuri, situasi mulai kacau, teman-temannya yang tidak bersenjata mulai terpojok, salah seorang kakak kelas Deni sudah berteriak mundur untuk kabur dari lokasi, teman-temannya yang lain lari berhamburan, beruntung saat itu tidak ada pelajar yang menjadi korban.

Walaupun jaminan dari setiap tawuran adalah nyawa, usai bentrok Deni sama sekali tidak merasa takut jika sampai meregang nyawa, yang muncul dipikiran Deni adalah kebencian terhadap kelompok pelajar dari Sekolah Bhipuri.

“Tiba-tiba saja rasa benci itu muncul sama anak-anak sekolahan Bhipuri, mungkin karena mereka juga sering saling ledek sama kita, di medsos ataupun di jalan,” ujar Deni.

Fanatisme di lingkungan pelajar antara dua STM tersebut memang cukup tinggi, selain gengsi sekolah (STM) yang sama-sama sudah berdiri paling lama di Tangerang Selatan, aksi tawuran antara dua sekolah tersebut juga sudah banyak memakan korban jiwa, menurut informasi yang dihimpun liberasi.id, sudah tiga siswa meninggal dunia akibat konflik antara kedua sekolah tersebut, akibatnya makin mempertebal doktrin rasa permusuhan antara dua sekolah tersebut.

Winarni Wilman Mansoer Psikolog Universitas Indonesia dalam pengantar buku “Catatan Seorang Pelajar Jakarta” mengatakan Tawuran pelajar adalah prilaku konflik antar sekolah atau antar Basis/Barisan Siswa.

Dalam buku tersebut Winarni mengatakan penyebab konflik itu adalah persepsi tentang adanya permusuhan antar sekolah yang tidak diketahui apa sebabnya dan kapan mulainya,” yang jelas adalah Siswa baru (kelas 1) menerima warisan permusuhan ini dari kakak kelasnya dan banyak yang terpaksa terlibat dalam tawuran karena dari pihak lawan pun mempersepsikan hal yang sama-sama memancing adanya konflik,” jelasnya.

Pelajar yang terlibat tawuran jelas Winarni, adalah remaja yang perkembangan psikologinya sangat mungkin memengaruhi pemikiran, perasaan, dan tindakan mereka. Remaja cenderung sangat terikat dengan kelompok sebayanya, juga sangat tinggi semangatnya, namun kurang mempertimbangkan berbagai risiko dari tindakannya, karena mereka masih terbatas pengalaman dan pemikiran.

“Tapi pada dasarnya banyak dari pelajar yang terlibat dalam tawuran atau kenakalan lainnya, sebenarnya tidak ingin terlibat, tetapi terpaksa terlibat karena mereka terberi sebagai bagian dari sekolah atau Basis/Barisan Siswa tertentu, serta terperangkap dalam permusuhan yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi di sekolahnya” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here