Diko Maulana (17), siswa kelas XI jurusan Teknik Industri SMK Sasmita Jaya, sedang memahat bilah besi.

“Motor woy, motor, astaghfirullah hal’adzim, naik!” teriak salah seorang teman Ahmad Fauzan dalam cuplikan video amatir tawuran pelajar SMK Sasmita Jaya dengan SMK Bhipuri beberapa detik setelah golok panjang berkarat menancap di pelipis kiri Fauzan.

Dalam video tersebut, darah keluar deras dari pelipis Fauzan, berceceran di badan jalan, tubuh Fauzan mulai terlihat tak terkendali, seorang teman lainnya membawa motor menghampiri Fauzan, yang lainnya memboyong tubuh Fauzan menaiki motor untuk dibawa ke Rumah Sakit bersama satu meter golok yang masih menancap di pipi Fauzan.

Di Jalan Raya Puspiptek, Kota Tangerang Selatan peristiwa tawuran maut itu terjadi pada 28 Juli 2018 lalu, duduk di bangku kelas XII, di usia ke 18 Ahmad Fauzan dinyatakan meninggal dunia setelah 11 hari dirawat di RSCM, Jakarta.

Kasus tawuran tersebut ternyata bukan kali pertama yang merenggut nyawa siswa SMK Sasmita ketika bentrok dengan SMK Bhipuri, tahun 2004 silam pernah terjadi tawuran serupa antara kedua sekolah yang mengakibatkan korban jiwa.

“Pernah dulu ada korban anak Sasmita Jaya meninggal tahun 2004 di Kampung Roda Hias Serpong ungkap Isnandar kepada liberasi.id, Rabu (3/10/2018) kemarin.

Isnandar merupakan Pembina Osis di Sekolah Menengah Kejuruan Sasmita Jaya, saat dutemui Isnandar sedang piket guru, di luar gedung, duduk di bangku yang letaknya cukup strategis untuk mengawasi ratusan muridnya yang sedang belajar, sambil menjalankan tugasnya, ia bercerita mengenai bentrok yang terjadi antara pelajar SMK Sasmita Jaya dan SMK Bhipuri.

Sejak tragedi 2004 itu, menurut Isnandar di kalangan siswa SMK Sasmita Jaya muncul tradisi “nyekar”, yaitu mendoakan korban meninggal setiap tanggal 21 September, kebiasaan “nyekar” dilakukan oleh sejumlah siswa di SMK Sasmita Jaya, mereka berkumpul dan berangkat ke daerah Kampung Roda Hias Serpong.

Diantara gedung bangunan SMK Sasmita Jaya yang berdiri tiga lantai leter U, di depan ruang administrasi guru Isnandar melanjutkan ceritanya, menurutnya aksi mendoakan korban merupakan inisiatif baik, namun kadang “nyekar” ini juga menjadi pemantik adanya bentrok antara SMK Sasmita Jaya dan Bhipuri, “karena masalah kecil saat berpapasan di jalan, bisa timbul bentrok,” ujarnya.

Tradisi nyekar telah menjadi sebuah dongeng yang mempengaruhi beberapa generasi pelajar di SMK Sasmita Jaya sampai hari ini,  rasa permusuhan ditularkan dengan cepat oleh oknum-oknum kakak kelas kepada adiknya saat melakukan nyekar.

“Memang gak digembor-gemborin ke anak-anak, gak ada bahasa ..yuk nanti kita nyerang sana, paling anak-anak diajak ..yuk nyekar, dan biasanya anak Bhipuri tahu kalau anak Sasmita mau nyekar, mereka juga kadang nyegat,”tambahnya.

Pasca tragedi yang menimpa Ahmad Fauzan, Isnandar tidak ingin ada lagi siswanya yang jatuh korban, terlihat banyak spanduk peringatan berukuran besar di badan bangunan sekolah, spanduk bertuliskan peringatan bahwa siswa akan dikeluarkan jika melakukan tawuran, narkoba ataupun membawa senjata tajam.

Spanduk-spanduk dipasang Isnandar pasca tawuran terjadi, Isnandar dan guru lainnya berupaya memberi peringatan kepada siswanya untuk tidak melakukan tawuran,”saya malu, kasus tawuran mencoreng nama baik sekolah, semoga kasus kemarin menjadi yang terakhir,” tuturnya.

Waktu menunjukan pukul dua siang, masih waktu masuk siswa kelas satu, di SMK Sasmita, kelas dua dan tiga waktu belajarnya pagi. Memang SMK Sasmita Jaya terkenal dengan jumlah siswanya yang cukup banyak, sehingga pihak sekolah membagi waktu jam belajar, kelas satu dari pukul 13.00 sampai 17.20.

Karena kelas satu dan dua masing-masing 11 kelas, ditambah kelas tiga 12 kelas, jumlah 20 ruang belajar tidak mampu menampung sekaligus siswa untuk belajar dengan jumlah rata-rata 30 siswa per-kelas.

Di tempat berbeda, sambil mengoperasikan mesin-mesin bubut, Diko Maulana (17), siswa kelas XI jurusan Teknik Industri SMK Sasmita Jaya, bersama teman kelasnya Diko fokus mempelajari ketepatan dalam memahat tiap inci dari sebilah besi di ruang lab prakteknya.

Diko berasal dari Ciseeng, Bogor, ia menganggap aksi tawuran antar pelajar tidak ada gunanya, menurutnya aksi tawuran tidak menjadikan sesuatu bisa bermanfaat.

“Gak berguna, mendingan belajar, bisa bikin sesuatu,” ungkapnya.

Hal positif yang dilakukan Diko bukan tanpa sebab, latar belakang ia memilih jurusan Teknik Industri memang karena ingin mendapatkan kerja dan membantu orang tua,” banyak STM, tapi gak ada jurusan mesin industri, kakak kelas ngambil jurusan yang sama, kakak kelas cerita kalau disini menjurus ke kerjanya,” tutur Diko.

Ahmad Syafei Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan mengakui sulitnya mendidik siswa untuk menjauhi hal-hal yang negatif dengan jumlah yang cukup banyak, apalagi siswa SMK Sasmita Jaya 95 persen didominasi oleh laki-laki.

“dominan anak teknik laki-laki,” ungkapnya.

Selain faktor tersebut, menurut pengamatan Syafei, yang membuat siswa SMK Sasmita Jaya kerap terlibat kasus tawuran adalah latar belakang siswa itu sendiri, menurutnya selain karakter nakal bawaan dari tingkat SMP, juga kondisi keluarga siswa yang meprihatinkan.

“Yang masuk Sasmita itu, ada yang broken home, masalah ekonomi, tidak punya uang buat jajan, pokonya menengah ke bawah, sehingga beda mentalnya dengan siswa-siswa di sekolah favorit” tutupnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here