Oleh : Sandi

Rumahku terletak di sebuah kota bernama Basil. Di kota itu, ada banyak sekali kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang setiap harinya. Dari pagi sampai siang, siang sampai sore, lalu-lalang itu tidak pernah berhenti. Bahkan sampai tengah malam pun, mereka masih berlalu-lalang saja. Itulah yang membuat kota Basil tidak pernah sepi, dan selalu ramai oleh kehidupan yang menjemukan.

Terlepas dari lalu-lalang yang menjadi ciri khas kota Basil, yang membuat kota ini mendapatkan penghargaan dari negara karena keramaiannya, kota ini menyimpan sebuah kejanggalan yang begitu aneh. Jika ada pertigaan, yang tentunya jumlahnya sangat banyak di kota ini, orang-orang yang memang asli lahir, tinggal, dan besar di Basil pasti akan memilih untuk berbelok ke kanan. Entah kenapa mereka seolah enggan untuk berbelok ke kiri. Tiap ada pertigaan A, belok kanan. Ada pertigaan lagi di depan, belok kanan lagi. Terus saja berbelok ke kanan tanpa mau memedulikan, atau bahkan mencoba untuk belok ke kiri.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Staniskovic datang ke kota tersebut. Ia berencana untuk berlibur ke kota Basil yang, selain terkenal karena lalu-lalangnya yang tiada henti, terkenal juga akan makanannya yang enak-enak. Staniskovic berencana untuk menghabiskan waktu selama satu minggu di kota Basil, berburu makanan enak sampai perutnya benar-benar kenyang. Sekadar info, kota asal Staniskovic hanya menyediakan nasi, garam, dan ikan asin untuk keperluan makan warganya sehari-hari.

Hari pertama tinggal di Basil, tidak ada masalah. Ia mulai mencoba menjajaki kuliner-kuliner yang ada di kota itu yang keenakan dan kelezatannya sudah terkenal ke seantero negeri. Pun dengan hari kedua sampai hari kelima, tidak ada masalah. Namun, menjelang hari keenam, ia merasakan sesuatu yang ganjil. Tiap ia menaiki angkutan umum, angkutan tersebut tidak pernah berbelok ke kiri, melainkan berbelok ke kanan. Begitu terus selama ia menghabiskan hari keenam di kota Basil. Merasa penasaran, ia pun bertanya kepada si sopir angkutan umum.

“Pak, kenapa ya kalau semua kendaraan di sini lebih sering belok kanan daripada belok ke kiri?” ujar Staniskovic.

“Wah, kurang tau saya Mas. Tapi yang jelas, kata selentingan kabar, kalau belok ke kiri, di sana ada banyak burung kondor dan juga ranjau-ranjau tersembunyi. Makanya orang-orang takut untuk belok ke sana,” ujar sang supir.

Semakin penasaran, akhirnya ia meminta kepada sang supir untuk mengantarnya ke sebuah pertigaan, dan mencoba untuk belok ke kiri untuk hari terakhirnya di kota Basil. Sang supir pun awalnya menolak dengan penuh rasa takut. Tapi, setelah bernegosiasi dengan Staniskovic, akhirnya ia mau untuk melakukannya dan berjanji untuk menjemput Staniskovic di tempat penginapan keesokan harinya.

Hari ketujuh. Hari terakhir Staniskovic berada di kota Basil. Ia tidak ingin meninggalkan kota yang sudah ia jajaki selama seminggu ini dengan rasa sesal. Ia pun bertekad untuk mencoba belok ke kiri, mengusir rasa penasaran yang diiringi oleh rasa takut sang supir yang sudah menjemputnya di penginapan pada pagi hari. Persiapan sudah dilakukan. Berbagai bekal dan juga rokok puluhan bungkus sudah Staniskovic siapkan untuk sang supir dan dirinya. Singkat kata, mereka pun berangkat.

Akhirnya, setelah menempuh beberapa mil dari penginapan, mereka menemukan sebuah pertigaan. Tepat di pertigaan tersebut, sang supir menghentikan kendaraannya untuk sementara waktu. Ia tampak bersiap dan menghela nafas berkali-kali. Staniskovic memerhatikan wajah si supir dari belakang, lalu menepuk pundak si supir dengan cukup keras.

“Apa kau sudah siap?” ujar Staniskovic

“Ya, aku sudah siap,” sang supir menjawab sembari menarik tuas gigi ke angka satu, dan melepas kopling mobil secara perlahan. Mereka pun berbelok ke kiri.

“DDUARRRRR” terdengar ledakan keras dari arah belokan tersebut, tak jauh dari pertigaan yang sudah mereka lalui. Staniskovic dan sang supir menghilang, bersama dengan asap yang membumbung tinggi dari kendaraan mereka. Suasana pun menjadi riuh seketika.

Staniskovic dan sang supir dinyatakan hilang dan meninggal.

**

Seminggu setelah kejadian malang Staniskovic, orang-orang masih saja berbelok ke kanan. Mereka yang ingin hidup dengan tenang dan damai memilih untuk tetap belok kanan. Tapi, ini bukan berarti, tidak ada orang yang berani untuk berbelok ke kiri.

Jika dahulu hampir semua orang merasa takut belok ke kiri, sekarang, beberapa dari mereka sudah berani untuk berbelok ke kiri jika menemui pertigaan. Hasilnya? Ledakan demi ledakan pun terdengar keras. Bukan hanya setiap minggu, tapi juga setiap hari, bahkan setiap detik. Semua yang berbelok ke kiri mengatakan, kalau mereka ingin menemui sosok Staniskovic dan sang supir, yang mereka nilai sudah menumbuhkan keinginan orang-orang untuk berbelok ke kiri.

Atas jasa yang sudah diberikan, Staniskovic dan sang supir dibuatkan patung penghargaan di setiap pertigaan di kota Basil, pertanda bahwa jasa-jasa mereka dihargai, meski tidak banyak yang peduli juga.

Lalu, ada yang menepuk pundakku. Orang yang masih muda, mungkin berusia 25 tahun. Ia adalah karibku semasa kuliah dahulu, yang sekarang bekerja sebagai anggota lembaga swadaya masyarakat. Ia menyadarkanku dari lamunanku, lalu perlahan membisikkan kata ke telinga saya.

“Belok ke kiri yuk, ah!” bisiknya perlahan, membuyarkanku dari cerita yang sedang kuketik 30 September lalu.

“Ayo!” balasku dengan bisikan kembali.

**

Tulisan ini dimuat sejak 30 September 2016 di blog Pintu Coklat.