ilustrasi

Raul mematikan rekaman di ponselnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur Palembang di dalam kamar kosnya. “Alison” dari Slowdive yang diputar di komputernya mengalun lembut, meninabobokan Raul hingga pemuda itu seakan-akan tenggelam jauh ke dalam kasur Palembangnya yang bergelombang. Dia masih terngiang-ngiang dengan cerita Selma yang mendobrak batas nalar itu.

Benarkah Selma berkata yang sebenarnya? Atau ini hanya karangan dia semata? Namun di satu sisi cerita itu sangat mungkin terjadi. Satu-satunya yang ganjil adalah bagian itu. Hmm, mungkin aku harus memeriksa latar belakang keluarga dan kondisi psikologis Selma sewaktu kecil. Ah, itu bisa dipikirkan belakangan. Aku tulis saja yang terpikir sekarang. Ini akan menjadi tulisan yang menarik, pikirnya.

Raul bangkit dari kasur. Dia mengambil sisa puntung rokok yang tinggal setengah dari asbak, lalu menyulutnya. Kini lagu “Alison” dari Slowdive di komputer berganti otomatis menjadi “Mong Gei Ta” dari Teresa Teng. Lagu yang menjadi latar musik Michelle Reis saat dia menangis usai bermasturbasi di film Fallen Angels karya Wong Kar Wai. Mengingat adegan itu membuat pistol keramat di balik celana dalam Raul mengacung keras. Ngaceng. Tanpa basa-basi, Raul membuka celana, meludahi telapak tangan kanannya, lalu mulai mengocok penisnya sambil membayangkan bisa mengentoti tubuh mulus Selma yang liat dan eksotis. Masturbasi adalah ritual Raul saat akan menulis. Menurutnya itu akan membuat dirinya lebih rileks dan lancar dalam menulis. Raul tidak memiliki perasaan yang khusus pada Selma. Dia selalu berpikiran bahwa Selma adalah gadis yang arogan, menyebalkan dan enigmatik. Dia tidak mencintai gadis itu. Namun justru tipe gadis macam itu yang membuatnya digempur berahi. Apalagi dia sudah cukup lama berteman dengan Selma. Menjadikan seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan kita sebagai objek fantasi masturbasi jauh lebih memuaskan dibanding harus membayangkan artis porno atau artis Hollywood. Raul selalu berpendapat seperti itu.

Tidak sampai lima menit, ritual itu selesai. Raul mendesah puas. Sekilas Raul melihat buku Pulang karya Leila S.Chudori yang belum sempat dibacanya. Kemudian tanpa mengenakan kembali celana dalam dan celana pendeknya, Raul mulai mengetik dengan cepat.

***

“Selma, kenapa sih kau suka sekali dengan astronot?”

Suara sumbang Raul membuyarkan konsentrasi membacaku. Aku menutup buku bergambar anak-anak berjudul The Lonely Astronaut on Christmas Eve karya Tom DeLonge, salah satu pentolan band Blink 182, lalu menatap Raul dengan jengah. “Bloomdido” menghentak-hentak ringan dari pelantam radio di kedai kopi yang saat ini sedang kami sambangi. Aku dan Raul baru saja pulang dari pemutaran film 2001: A Space Odyssey besutan sutradara eksentrik Stanley Kubrick. Film yang sudah kutonton sebanyak 47 kali. Raul memerhatikanku, menunggu jawaban. Tampaknya dia benar-benar penasaran dengan kefanatikanku terhadap astronot. Aku mengambil secangkir kopi tubruk pesananku, menyeruputnya dengan nikmat, sementara tiupan maut saksofon dari Charlie Parker menelusup masuk ke tiap-tiap indera pendengaran para pengunjung yang datang.

“Kau tidak akan percaya dengan cerita yang sesungguhnya.” Aku menyesap kopi itu sekali lagi, lalu meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. Raul bungkam. Dia mengambil rokok dari saku jaket, lalu menyulutnya.

Raul ini adalah kawanku semenjak bangku SMA sampai kuliah. Kini dia bekerja sebagai penulis purnawaktu di majalah wanita. Aneh memang. Katanya dia selalu tertarik dengan kepribadian wanita, makanya dari sekian banyak majalah yang ada di ibukota, dia malah memilih majalah wanita. Dan sudah dua hari ini dia menerorku, menanyakan kenapa gadis manis sepertiku yang jauh dari kesan tomboi bisa-bisanya suka dengan astronot. Dia ingin menulis profil dan kesukaanku itu di majalahnya. Awalnya, aku sudah berkilah menjawab pertanyaannya dengan alasan klasik. Aku bilang saja kalau aku menyukai astronot karena suka dengan Keir Dullea, pemeran Dr. David Bowman di film 2001: A Space Odyssey itu. Tapi Raul tidak percaya. Dia tetap bersikukuh. Dia kembali menguntitku, sampai-sampai rela ikut menonton film favoritku tersebut, walau aku tahu kalau dia tidak menyukai film-film fiksi ilmiah. Tadi saja dia tertidur ketika menonton. Sepanjang perjalanan pulang, dia mengomel-ngomel karena adegan monyet-monyet kesurupan yang selama dua puluh menit memenuhi layar dengan pekikan-pekikan gila. Aku cuma bisa tersenyum geli.

“Kalau lo sampai bilang cerita gue ini omong kosong atau sejenisnya, gue bakal tubrukin nih cangkir kopi ke congor lo keras-keras biar ini kopi tubruk bakal nubruk beneran secara harfiah. Perluas perspektif lo. Jangan asal nilai. Ngerti lo?” ancamku.

“Heh, jaga gaya bahasamu. Kalau kau berbicara seperti itu, nanti dialog dalam cerita ini jadi tidak terlihat konsisten. Jangan seenak-enaknya,” bisik Raul sambil melirik kanan-kiri.

“Aku sudah minta izin dengan penulisnya supaya aku bisa berbahasa seperti itu. Karena dialog barusan memang lebih pantas jika diucapkan dengan bahasa seperti tadi.”

“Ah, persetanlah. Lagi pula kau ini meremehkanku ya? Aku ini penulis di majalah wanita. Aku sudah tebiasa membaca dan mendengarkan cerita-cerita konyol para wanita. Tapi aku tahu kalau kau tidak akan bercerita seperti mereka. Karena dari itulah aku mengikutimu dua hari ini.”

“Baiklah, aku hanya ingin kau berpendapat lebih bijak saja. Jangan seperti penulis-penulis di majalah-majalah atau portal daring murahan, yang bisanya membesar-besarkan masalah sepele.” 

Raul mengambil ponsel pintarnya, lalu menekan tombol “rekam”. “Jangan banyak cincong. Kau tahu aku bukan tipe penulis seperti itu. Sekarang, mulailah bercerita.”

***

Saat itu usiaku baru menginjak enam atau tujuh tahun. Aku tidak begitu ingat. Yang pasti saat itu aku sedang bermain-main di pekarangan belakang rumah dengan anjingku yang kunamai McCormick. Ayah dan Ibuku sedang bekerja. Mereka baru pulang larut malam. Di rumah aku ditemani Mbak Inah, asisten rumah tanggaku. Namun saat itu Mbak Inah sedang sibuk mencuci piring di dapur. Jadinya aku bermain hanya dengan McCormick.

Pekarangan belakang rumahku memang cukup luas. Ditumbuhi rumput hijau yang sehalus permadani Persia dan dikelilingi dengan rimbunan semak-semak juga pepohonan willow. Jika aku melangkahi semak-semak itu, dan terus berjalan lurus, maka kita akan menemukan pantai yang tak berpenghuni. Hampir setiap pagi dan sore hari aku berjalan ke sana hanya untuk mendengar desiran ombak yang lembut dan celoteh burung-burung camar yang nakal. Tapi aku tidak pernah diperbolehkan ke pantai itu sendirian oleh ayah dan ibuku. Kata mereka berbahaya untuk anak sekecilku. Apalagi kita memang harus menelusuri jalan setapak di dalam hutan untuk bisa sampai ke sana. Meski hutan itu tidak terlalu luas dan sepertinya tidak dihuni binatang buas, tapi tetap saja bisa menyesatkan. Begitu kira-kira menurut ayahku. Aku tidak terlalu ingat detail perkataannya. Ya, aku memang tidak pernah bisa mengingat detail-detail kecil. Buat apa? Tidak ada gunanya. Toh aku bukan detektif atau polisi.

Aku melempar bola tenis ke arah semak-semak. Biasanya dalam waktu hanya sepuluh detik, McCormick sudah mengejar, menggigit dan mengembalikannya lagi padaku. Tapi sudah hampir satu menit, McCormick tak kunjung kembali. Aku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Aku bisa melihat semak-semak itu masih bergoyang-goyang akibat ulah McCormick. Mungkin dia menemukan harta karun bajak laut, mayat korban mutilasi, atau apalah yang menarik perhatiannya. Nanti juga dia segera kembali dan menggonggong kegirangan seperti biasa. Aku menenggak habis jus jeruk buatan Mbak Inah, lalu berbaring sambil memainkan orang-orangan kesayanganku berupa astronot pemberian ayahku, menunggu McCormick datang. Tak berapa lama kemudian, sebuah bayangan hitam menimpa tubuhku, menghalangi sinar matahari yang meraba kulit-kulit halusku. Nah, akhirnya McCormick datang juga.

“Hai.”

“Hai juga, McCormick. Kau ini lama sekali sih. Pakai menyapa segala lagi. Tumben. . “ aku menghentikan kalimatku. Terkejut. Mana mungkin McCormick bisa mengucapkan kata “Hai” sefasih ini? Bodohnya aku! Ya, maklumlah. Saat itu aku masih begitu polos dan cenderung dungu. Terlalu banyak menonton film Mickey Mouse yang ada Goofy dan Pluto-nya juga mungkin.

Bayangan itu mendekat. Tidak, itu bukan bayangan biasa. Bayangan siluet astronot. Ya, itu astronot. Seorang lelaki dengan pakaian dan helm luar angkasa muncul di hadapanku. Saat itu aku tidak tahu kalau orang yang berpakaian astronot tak seharusnya muncul begitu saja di pekarangan belakangan rumah (kecuali jika semalam tetanggamu mengadakan pesta kostum). Jadi, aku sama sekali tidak menaruh kecurigaan padanya.

“Kau siapa?” tanyaku polos. “Mana McCormick?’

“McCormick? Oh, anjingmu ya? Tunggu dulu biar kulepas helm ini. . .” pria itu melepas helmnya. “Huh, gerah sekali! Oh, tadi kau menanyakan anjingmu, ya? Tadi dia ada kok. Nah, itu anjingmu.”

McCormick datang sambil menggigit bola. Namun aku tidak memedulikan McCormick. Aku terlalu sibuk meneliti wajah pria asing itu. Tampangnya tidak terlalu tampan. Tipikal wajah pria yang bakal kau lihat di stasiun kereta atau rumah makan padang. Dia masih muda. Mungkin berumur 25 tahun. Wajahnya sangat tirus. Seperti orang yang belum makan setahun. Kulitnya cokelat terbakar matahari. Rambutnya berantakan dan terlihat sangat kumal. Dahi dan pipinya dipenuhi goresan luka dan memar tipis. Katanya anak kecil bisa membaui sesuatu yang menyeramkan dan tidak menyenangkan. Makanya, mereka suka menangis tanpa alasan. Tapi aku tidak merasakannya pada diri pria astronot tersebut saat itu. Aku malah merasa hangat dan nyaman di dekatnya.

“Kenapa kau bisa ada di pekarangan rumahku?” tanyaku lagi.

“Hmm, boleh aku minta jus jeruk itu?”

Aku mengangguk. Tanpa menuangkan jus jeruk yang berada di botol kaca ke gelas, pria itu menandaskan jus jeruk di dalamnya hingga tetes terakhir. Aku sampai menelan ludah.

“Aaaaaahhhh,” desahnya puas. Kemudian dia mengempaskan pantasnya di atas rumput, lalu menyulut rokok yang sudah peot.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” kataku sambil membelai kuping McCormick.

“Oh, iya. Maaf ya, gadis kecil. Eh, ngomong-ngomong siapa namamu?”

Aku menyebutkan namaku.

“Nama yang bagus. Hmm, sebenarnya aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Karena bisa membahayakan misi dan keselamatanku. Tapi karena sepertinya kau anak baik dan pintar, maka aku akan menceritakannya padamu. Tapi kau harus janji. Jangan menceritakannya pada orang lain. Bagaimana?” pria itu menyodorkan jari kelingkingnya padaku sambil tersenyum simpul.

Aku menyambut jari kelingkingnya yang kusam dengan jari kelingkingku yang mungil, lalu membalas senyumannya. “Janji!”

“Bagus! Hmm, sebelum itu, apakah ada orang di rumah selain kau dan McCormick?”

“Hanya ada Mbak Inah. Tapi sepertinya dia sudah tidur. Kenapa kau memakai pakaian astronot seperti itu? Basah pula.”

“Astronot? Oh, yang seperti di film 2001: A Space Odyssey? Ah, pakaian ini maksudmu. Baiklah, aku akan menceritakannya dengan cepat. Karena aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ehem, Oke. Aku datang ke sini dari sebuah planet yang mengerikan. Sebenarnya aku tidak berencana mendarat di pekarangan rumahmu ini. Tapi sepertinya ada kesalahan koordinat di kapsul luar angkasaku. Aku sempat terapung-apung di laut selama berhari-hari, lalu secara tak sengaja terdampar di pinggir pantai yang letaknya tak jauh dari pekarangan belakang rumahmu ini. Planet itu sungguh mengerikan. Dan disesaki oleh orang-orang jahat. Pembunuh, pencuri, pemerkosa, perampok, koruptor. Walau memang tidak semua planet itu diisi dengan orang-orang jahat. Ada juga orang-orang baik di sana yang sialnya mendarat di planet itu karena ulah oleh orang-orang jahat itu. Sepertiku misalnya. Hanya gara-gara demonstrasi menentang pemerintah, aku dan teman-temanku ditangkap dan dijebloskan ke sana. Yah, maka dari itu, kami berusaha untuk kabur dari planet tesebut. Penjaga-penjaga di planet itu adalah makhluk paling kejam dan biadab. Kami dihajar dan disiksa sampai ingin mati rasanya. Bahkan sebagian dari temanku ditembak mati begitu saja seperti binatang. Ah, sial. Seharusnya aku tidak menceritakan bagian ini padamu, ya? Lupakan saja perkataanku tadi. Beruntungnya salah satu dari penjaga itu ada juga yang baik. Dia membantu kami kabur. Sayangnya, aku tidak tahu lagi bagaimana nasib teman-temanku yang lain, juga penjaga itu.”

Saat itu aku tidak mengerti apa yang dia racaukan. Yang aku tahu, pria ini benar-benar sedih. Itu terlihat jelas di wajahnya walau hanya sekelebat saja. Aku juga tahu kalau dia begitu menderita. Namun juga ada rasa puas tergurat di ekpresi wajahnya. Mungkin dia lega karena berhasil meloloskan diri dari planet mengerikan itu. Setelah bercerita panjang lebar, pria itu bangkit dari duduknya. Dia mengusap-ngusap rambutku, kemudian berjalan gontai menuju pintu keluar. Mbak Inah yang secara tidak sengaja melihat ada orang baru saja keluar dari rumah segera berlari dengan panik ke arahku. Dia memelukku erat-erat.

“Non Selma! Non, tidak apa-apa? Laki-laki tadi siapa, Non?!” berondongnya cemas.

“Dia astronot, Mbak Inah.”

Mbak Inah menatapku dengan bingung. Dia memungut orang-orangan astronot milikku, menatapnya sejenak, lalu menuntunku masuk ke dalam kamar.

“Non Selma sekarang tidur siang ya. Jangan keluar dari kamar,” pesannya.

Aku mengangguk. Aku memang merasa lelah sekali. Kubaringkan tubuhku di ranjang, lalu mencoba memejamkan mata. Bersiap untuk terlelap. Namun gagal. Lamat-lamat, dari dalam kamar, kudengar suara Mbak Inah yang sepertinya sedang menelepon Ayah atau Ibu, meminta mereka untuk lekas pulang. Selain suara Mbak Inah yang terdengar ketakutan, aku mendengar dua suara lain yang asing. Aku ingin keluar kamar untuk mencari tahu tapi tidak berani. Kedua suara asing itu bergantian menanyakan sesuatu kepada Mbak Inah yang hanya dijawab Mbak Inah dengan jawaban yang sama yaitu ‘Saya tidak tahu, Pak’. Sayangnya aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang ditanyakan kedua pria itu. Tak lama kemudian suara kedua pria itu menghilang, berganti dengan suara deru kendaraan besar yang ribut menggilas jalanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here